« Separuh hidupku hilang, | Main | Kembali dari Gorontalo »

diskusi menarik dan sikap asal ikut saja

               Beberapa hari lalu, aku teringat dengan perbincangan dengan dua orang teman. Waktu itu aku berada di jurusan. Lagi ngobrol, tiba-tiba ada lowongan kerja di BSM. Iseng-iseng kutanya pada dua temen itu, mau kerja di perbankan syaraih? Orang pertama (L) menjawab, “Mau” dan orang kedua (J) menjawab, “Mau”. “Kenapa?”, tanyaku kepada L dan J. Kedua orang menjawab secara singkat bahwa karena sesuai dengan syariat Islam.

 “Terus, kalo kerja di Bank Indonesia, sesuai dengan syariah?”, tanyaku. L menjawab, “Tidak, karena menganut riba”. Aku tanya balik, “Terus kalo ga ada BI khan ga ada regulatornya, siapa yang ngatur bank syariah?”. L diam dan tidak menjawab, lalu meneruskan, “Tidak tahu”.

 Aku meneruskan pertanyaanku, “Tahu bedanya bank syariah dengan bank konvensional?” Aku memakai istilah ‘konvensional’ aja, bingung mau pake istilah apa (padahal menurutku istilah ‘konvensional’ patut dipertanyakan). “Tidak tahu”, kedua-duanya menjawab serempak. Akhirnya, aku menjelaskan salah satu yang beda saja, yaitu dalam menghitung bagi hasil dibandingkan dengan bunga. Aku jelaskan juga bahwa konsep perhitungan bagi hasil juga ada yang masih mengganjal. Cuma bedanya, bank syariah, ada brand ‘anti riba’.

 Haduw................

 Ini anak muda jaman sekarang. Parah banget wawasannya. Kapan mau berkembang? Tapi terus terang aku tidak menyalahkan mereka yang kurang wawasan. Maklum, seandainya mereka kuliah di fakultas ekonomi atau menekuni ekonomi syariah, tentu saja wawasan mereka lebih banyak.

 Hanya saja yang aku permasalahkan adalah pola pikir mereka. Yaitu menerima apa saja yang berbau atau berlabel syariah atau apapun yang direkomendasikan lembaga fatwa tanpa berpikir kritis dan terbuka. Mestinya, lebih bijak jika menerima sesuatu dengan kritis, tidak serta merta menerimanya.

 Satu sisi, aku tidak mempermasalahkan jika mereka memang benar-benar tidak mengerti. Tapi mereka khan mahasiswa. Yach, ada peningkatan strata dikit lah dari sisi intelektual. Yach, mikir dikit gitu lah, apa susahnya.

     Jangan Cuma terpaku atas apa yang dikatakatan otoritas ulama dan tafsiran dari satu pihak. Coba berpikir ‘out of box’, yaitu terus berusaha mencari tahu dan berpikir dengan logika dan fakta atas tafsiran tersebut.

 Tapi aku juga sadar bahwa akal dan segala prinsip pasti memiliki keterbatasan. Jadi, jangan sampai meyakini bahwa apa yang kita yakini adalah bersifat final. Pemikiran manusia itu dinamis. Jangan pernah menganggap yang sekarang adalah paling benar. Kita harus senantiasa bergerak terus mengarungi pemikiran.

 Kuncinya adalah berpikir terbuka dan kritis. Jangan sampai pikiran kita terkungkung dalam paradigma yang sempit, tidak mau mencari tahu kebenaran dan menerima apa adanya!

     Ini yang aku lihat ketika aku menjadi mahasiswa. Beberapa teman yang tergabung dalam kelompok tertentu, cenderung menerima dengan pasif, artinya menerima apapun yang diberikan. Biasanya melalui mentoring-lah, atau jika ada keputusan dari ‘atas’ tentang sikap politik tertentu. Sikap ini, aku amati menjalar hingga sikap mereka di luar kampus, misalnya ketika ada ‘pesta politik’ dalam pemilihan Kepala Daerah, atraksi politik di pentas nasional dan lain-lain.

     Ok, tapi aku menghargai sikap orang lain. Itu adalah hak mereka secara pribadi. Mau mereka jadi manusia, jadi monyet, jadi kodok, beropini segala macam dan segala sikap, yang penting satu hal yang harus dipegang adalah harus saling menghargai orang lain. Jangan pernah berpikir bahwa pemikiran kita saat ini adalah paling benar. Jika hal itu yang terjadi, maka hancur sudah generasi muda Indonesia!

Arip Muttaqien,
-alumni Universitas Indonesia-

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .